Apa Saja Penyebab Gen Z dan Milenial Susah Beli Rumah? Perubahan cara pandang generasi muda terhadap kepemilikan rumah tidak terjadi tanpa alasan. Di kalangan Gen Z serta Milenial, mindset mulai bergeser dari mengejar aset jangka panjang menuju pemenuhan kualitas hidup saat ini.
Rumah tidak lagi dipandang sebagai simbol kesuksesan utama, melainkan salah satu pilihan hidup yang dapat ditunda. Banyak anak muda kini lebih fokus pada kebebasan finansial, kesehatan mental, serta kesempatan menikmati hidup tanpa beban cicilan panjang.
Salah satu faktor pendorongnya berasal dari prioritas hidup yang condong pada pengalaman dibanding aset. Traveling, pendidikan lanjutan, pengembangan diri, hingga membangun bisnis atau karir global dinilai lebih bernilai daripada mengikat diri pada satu properti. Tidak heran muncul fenomena milenial memilih sewa rumah karena dianggap lebih praktis serta tidak membatasi ruang gerak. Fleksibilitas ini sejalan dengan karakter Gen Z yang cenderung ingin mencoba banyak hal sebelum menetap.
Selain itu, mobilitas tinggi serta perubahan pola kerja turut memperkuat tren menyewa rumah. Sistem kerja hybrid maupun remote membuat generasi muda tidak harus tinggal di satu kota dalam waktu lama. Menyewa dinilai lebih rasional dibanding membeli rumah di tengah ketidakpastian ekonomi serta dinamika karier.
Penyebab Gen Z dan Milenial Susah Beli Rumah di Era Modern

Kepemilikan rumah masih dianggap sebagai simbol stabilitas hidup. Namun, bagi Gen Z serta Milenial, memiliki rumah di era modern bukan perkara mudah. Banyak faktor struktural maupun ekonomi membuat generasi muda menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan hunian pertama. Kondisi ini bukan sekadar persoalan gaya hidup, tetapi berkaitan erat dengan perubahan ekonomi serta sosial dalam satu dekade terakhir.
Kenaikan Harga Properti Tidak Seimbang dengan Pendapatan
Salah satu alasan generasi muda sulit beli rumah berasal dari kenaikan harga properti yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kenaikan upah tahunan cenderung stagnan, sementara harga rumah terus meningkat setiap tahun. Ketimpangan ini membuat rasio antara harga properti serta pendapatan bulanan semakin tidak realistis bagi pekerja muda.
Bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja serta Milenial di fase awal karier, kondisi ini membuat rumah terasa semakin tidak terjangkau, bahkan untuk tipe hunian sederhana di kawasan pinggiran kota.
Baca disini: Cara Mengatasi Atap Rumah yang Bocor
Sulit Mengumpulkan Uang Muka
Masalah kepemilikan rumah Gen Z juga berkaitan erat dengan besarnya uang muka atau down payment. Kebijakan pembiayaan perumahan memang terus berkembang, namun secara umum tetap membutuhkan dana awal cukup besar. Bagi generasi muda dengan tabungan terbatas serta biaya hidup tinggi, mengumpulkan uang muka menjadi tantangan serius.
Di sisi lain, biaya hidup perkotaan seperti transportasi, makanan, serta kebutuhan digital membuat porsi pendapatan yang bisa disisihkan semakin kecil.
Baca disini: Rumah Terasa Panas?
Akses Kredit serta Beban Suku Bunga
Kebijakan moneter memiliki peran besar dalam menentukan kemudahan akses rumah. Menurut Bank Indonesia, perubahan suku bunga acuan berdampak langsung pada cicilan Kredit Pemilikan Rumah. Saat suku bunga berada di level tinggi, cicilan menjadi lebih mahal, sementara risiko gagal bayar ikut meningkat.
Bagi Milenial, kondisi ini kerap menimbulkan dilema antara mengambil KPR dengan beban besar atau menunda kepemilikan rumah dalam waktu tidak pasti.
Perubahan Pola Kerja serta Mobilitas Tinggi
Kenapa Milenial susah punya rumah juga dipengaruhi oleh perubahan pola kerja. Konsep kerja fleksibel, remote, maupun kontrak jangka pendek membuat banyak generasi muda enggan terikat pada satu lokasi. Mobilitas tinggi ini menjadikan kepemilikan rumah tidak lagi dianggap kebutuhan mendesak.
Dalam konteks ini, fleksibilitas hidup sering diprioritaskan dibanding aset jangka panjang seperti rumah, terutama di usia produktif.
Minimnya Literasi Finansial Jangka Panjang
Faktor lain yang kerap luput dibahas adalah rendahnya perencanaan keuangan jangka panjang. Banyak generasi muda belum memiliki strategi matang terkait investasi properti sejak dini. Tanpa pemahaman kuat mengenai pengelolaan aset, rumah sering dipandang sebagai tujuan terlalu jauh serta sulit dicapai.
Padahal, dengan perencanaan tepat, kepemilikan rumah tetap memungkinkan meski melalui proses lebih panjang.
Baca disini: Penyebab Kamar Lembab di Rumah
Cara Agar Gen Z dan Milenial Bisa Beli Rumah Secara Realistis serta Terencana

Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian besar bagi banyak generasi muda. Namun, di tengah kenaikan harga properti, biaya hidup terus meningkat, serta pola kerja makin dinamis, tantangan membeli rumah terasa semakin nyata bagi Gen Z maupun Milenial. Meski begitu, peluang tetap terbuka jika strategi dilakukan secara realistis serta terencana sejak awal.
1. Menyusun perencanaan keuangan sejak usia produktif
Langkah paling mendasar dalam strategi beli rumah pertama adalah menyusun perencanaan keuangan jangka panjang. Idealnya, perencanaan dimulai sejak memasuki usia produktif, bahkan saat masih lajang. Dengan memahami arus pemasukan serta pengeluaran bulanan, Gen Z dan Milenial dapat menentukan porsi dana tabungan rumah secara konsisten.
Disarankan memisahkan rekening khusus dana rumah agar target lebih terukur serta tidak tercampur kebutuhan konsumtif. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip literasi keuangan yang terus digaungkan Otoritas Jasa Keuangan.
2. Menentukan target harga rumah sesuai kemampuan cicilan
Kesalahan yang sering terjadi saat milenial beli rumah adalah menentukan target harga berdasarkan keinginan, bukan kemampuan. Padahal, cicilan ideal sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan agar kondisi keuangan tetap aman.
Dengan menghitung kemampuan cicilan sejak awal, strategi beli rumah pertama menjadi lebih realistis. Target harga dapat disesuaikan dengan kondisi finansial, bukan sebaliknya. Pendekatan ini membantu menghindari risiko kredit macet serta tekanan keuangan jangka panjang.
3. Memanfaatkan program KPR subsidi serta fasilitas rumah pertama
Bagi Gen Z serta Milenial dengan penghasilan menengah ke bawah, program KPR subsidi menjadi solusi relevan. Skema ini menawarkan suku bunga lebih rendah, tenor panjang, serta uang muka lebih ringan dibanding KPR konvensional.
Program ini dirancang khusus untuk membantu masyarakat memiliki rumah pertama secara lebih terjangkau serta diawasi lembaga terkait bersama perbankan nasional. Kebijakan makroprudensial dari Bank Indonesia juga berperan menjaga stabilitas pembiayaan perumahan agar tetap inklusif bagi generasi muda.
4. Memilih lokasi berkembang dengan harga lebih terjangkau
Strategi lain yang sering diabaikan adalah pemilihan lokasi berkembang. Banyak generasi muda terpaku pada kawasan pusat kota, padahal harga properti di area tersebut sudah sangat tinggi.
Dengan mempertimbangkan wilayah penyangga atau kawasan yang sedang berkembang secara infrastruktur, peluang mendapatkan rumah dengan harga lebih terjangkau menjadi lebih besar. Selain itu, nilai properti di lokasi berkembang berpotensi meningkat dalam jangka panjang, sehingga berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus aset.
Banyak Gen Z serta Milenial merasa memiliki rumah sendiri kian terasa jauh. Harga properti naik, penghasilan terbagi banyak kebutuhan, belum lagi cicilan jangka panjang yang membuat ragu. Namun satu hal penting sering luput disadari: saat kesempatan memiliki rumah datang, kualitas material menjadi penentu kenyamanan serta nilai jangka panjang hunian. Jangan sampai setelah berjuang memiliki rumah, justru harus sering renovasi akibat salah memilih bahan bangunan.
Di sinilah peran produk tepat menjadi krusial. GNET Atap UPVC hadir sebagai solusi atap awet, tahan panas, serta minim perawatan, cocok bagi generasi yang menginginkan hunian praktis tanpa biaya tambahan di masa depan. Dipadukan dengan GNET Kitchen Sink Luxuric berdesain modern serta fungsional, dapur rumah tidak hanya nyaman digunakan, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi. Investasi kecil di awal mampu menghemat banyak biaya di kemudian hari.
Jika kamu ingin rumah pertama benar-benar menjadi tempat pulang nyaman serta bernilai jangka panjang, inilah saatnya lebih cerdas memilih material. Percayakan kebutuhan bahan bangunan pada GNET Indonesia,Distributor bahan bangunan terbaik yang memahami kebutuhan generasi masa kini.
