Apakah kamu sudah mengetahui perbedaan atap sirap dan shingles? Pada umumnya masih banyak pengguna yang menganggap atap sirap dan shingles adalah satu kesatuan karena cara pemasangannya yang hampir sama. Padahal, keduanya berbeda dari segi material, daya tahan, dan estetika.
Apakah kamu sedang mencari atap dengan daya tahan jangka panjang dan tampilan eksklusif, atau lebih mengutamakan kemudahan pemasangan dan variasi desain? Dalam artikel ini, GNET Indonesia akan mengupas tuntas seputar perbedaan atap sirap dan shingles.
Pengertian Atap Sirap dan Shingles
Sebelum memahami berbagai perbedaan atap sirap dan shingles, sebaiknya kamu mengetahui pengertian dari atap sirap dan shingles terlebih dahulu. Berikut ini adalah pengertian atap sirap dan shingles yang dapat kamu pahami.

Sumber: Freepik
1. Pengertian Atap Sirap
Atap sirap adalah material penutup atap yang dibuat dari kayu keras seperti ulin, cedar, bengkirai, atau jati. Kepingan kayu ini dipotong dalam bentuk persegi panjang atau meruncing di salah satu ujungnya untuk mempermudah pemasangan.
Umumnya, jenis kayu yang digunakan untuk atap sirap memiliki kepadatan serat tinggi sehingga bisa menahan air dan tidak mudah lapuk meskipun terkena hujan dan panas secara terus-menerus dengan perawatan rutin.

Sumber: Freepik
2. Pengertian Atap Shingles
Atap shingles adalah jenis penutup atap yang terbuat dari aspal, fiberglass, atau campuran serat organik dengan lapisan butiran mineral di bagian atasnya. Melalui teknologi modern, membuat atap ini memiliki beragam desain dan warna, serta tekstur.
Atap ini tidak memerlukan rangka atap yang kompleks karena cukup ringan dan dapat dipasang dengan sistem overlapping (tumpang tindih). Hal ini bertujuan untuk memastikan perlindungan maksimal dari air hujan dan angin kencang.
Perbedaan Atap Sirap dan Shingles
Apakah kamu menginginkan atap dengan estetika alami berdaya tahan tinggi atau mencari solusi atap yang praktis, ringan, dan mudah dipasang? Berikut adalah tujuh perbedaan utama yang perlu kamu ketahui sebelum menentukan pilihan atap sirap atau atap shingles.
1. Material dan Komposisi
Atap sirap terbuat dari kayu keras berkualitas tinggi, contohnya ulin, cedar, bengkirai, dan jati. Kayu-kayu ini biasanya memiliki daya tahan alami terhadap cuaca dan serangan hama. Kayu yang digunakan tentunya telah melalui proses pengeringan dan perlakuan khusus agar tidak mudah melengkung atau lapuk akibat kelembapan.
Di sisi lain, atap shingles dibuat dari kombinasi aspal, fiberglass, dan serat organik yang diperkuat dengan lapisan butiran mineral. Material ini memberikan ketahanan ekstra terhadap sinar UV, hujan, dan angin kencang. Memiliki komposisi yang lebih modern, atap shingles hadir dalam berbagai warna dan tekstur, serta fleksibel untuk berbagai model atap rumah.
2. Daya Tahan dan Umur Pakai
Daya tahan atap sirap sangat bergantung pada jenis kayu yang digunakan serta perawatan yang dilakukan. Contohnya, kayu cedar yang tahan terhadap segala kondisi cuaca. Namun, di daerah dengan tingkat kelembaban tinggi, atap sirap lebih rentan terhadap pertumbuhan jamur dan lumut sehingga memerlukan perawatan lebih intensif.
Sementara itu, atap shingles umumnya memiliki umur pakai 20 hingga 30 tahun. Biasanya, dimensional shingles dan luxury shingles menawarkan ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan jenis 3-tab shingles standar.
Baca Juga:
3. Daya Tahan Terhadap Panas
Kayu secara alami memiliki sifat insulasi termal yang membuat atap sirap mampu menyerap dan menahan panas dengan lebih baik. Hal ini menjadikan suhu di dalam rumah tetap sejuk meskipun cuaca di luar panas. Oleh karena itu, atap sirap sangat cocok untuk daerah tropis yang memiliki intensitas sinar matahari tinggi.
Sebaliknya, atap shingles lebih mudah menyerap panas, terutama jika menggunakan warna gelap. Namun, beberapa varian shingles modern sudah dilengkapi dengan teknologi yang bisa memantulkan panas untuk membantu mengurangi penyerapan panas matahari.

Sumber: Freepik
4. Bobot
Atap sirap memiliki bobot yang relatif ringan dibandingkan dengan genteng beton atau tanah liat sehingga tidak memberikan beban berlebih pada struktur bangunan. Bobotnya yang ringan membuat atap sirap juga lebih aman digunakan di daerah rawan gempa karena dapat mengurangi dampak kerusakan akibat getaran seismik.
Di sisi lain, atap shingles juga termasuk material atap yang ringan. Melalui bobot yang lebih rendah dibandingkan genteng tanah liat biasa, atap shingles bisa dipasang dengan lebih mudah dan cepat tanpa membebani struktur bangunan.
5. Estetika dan Penampilan
Atap sirap memberikan kesan alami dan eksklusif dengan tekstur kayu yang kian indah seiring bertambahnya masa pakai. Warnanya yang awalnya cokelat tua atau kemerahan akan berubah menjadi abu-abu keperakan. Hal ini mampu menciptakan nuansa klasik yang unik. Oleh karena itu, atap sirap sering digunakan pada bangunan resort, vila, dan rumah tradisional.
Di sisi lain, atap shingles hadir dalam berbagai pilihan warna dan motif dengan desain modern berwarna solid hingga gradasi. Variasi desain ini membuat shingles cocok untuk rumah dengan gaya arsitektur minimalis hingga kontemporer. Selain itu, tampilan atap shingles tetap konsisten dalam jangka waktu lama tanpa perlu perawatan khusus.

Sumber: Freepik
6. Penggunaan
Atap sirap lebih sering digunakan pada bangunan tradisional, rumah kayu, gazebo, dan villa dengan konsep alami karena terbuat dari material kayu alami. Keunggulan daya serap panasnya juga membuatnya cocok untuk rumah di daerah tropis yang sering terpapar sinar matahari langsung.
Di sisi lain, atap shingles lebih fleksibel dan cocok digunakan untuk berbagai jenis bangunan, mulai dari rumah tinggal, perumahan komersial hingga bangunan industri. Proses pemasangan yang mudah dan cepat menjadikannya pilihan populer di proyek-proyek pembangunan yang membutuhkan efisiensi waktu dan biaya.
7. Biaya
Dari segi biaya, atap sirap cenderung lebih mahal dibandingkan shingles. Harga tinggi ini disebabkan oleh penggunaan kayu berkualitas tinggi serta proses produksi yang memerlukan keterampilan khusus. Selain itu, pemasangan atap sirap harus dilakukan oleh tenaga profesional untuk memastikan ketahanan dan hasil yang optimal.
Sebaliknya, atap shingles lebih terjangkau dan terjangkau, baik dari segi harga material maupun biaya pemasangan. Bobot atap shingles lebih ringan dan sistem pemasangannya juga lebih sederhana. Hal ini sejalan dengan biaya tenaga kerja untuk pemasangan atap shingles yang lebih rendah dibandingkan dengan atap sirap.
Lebih Bagus Atap Sirap atau Shingles?
Demikianlah informasi seputar perbedaan atap sirap dan shingles. Apabila kamu menginginkan tampilan atap yang alami dan eksklusif dengan daya tahan jangka panjang, atap sirap bisa menjadi pilihan terbaik. Namun, perlu dicatat bahwa atap sirap memerlukan perawatan ekstra dan biaya pemasangan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, jika kamu mencari solusi atap yang terjangkau, ringan, dan mudah dipasang, atap shingles adalah pilihan cerdas. Memiliki berbagai pilihan desain serta ketahanan yang cukup baik terhadap cuaca, atap shingles dapat menjadi alternatif yang menarik bagi rumah modern maupun komersial.
Apabila kamu tertarik untuk menggunakan atap shingles, pertimbangkan untuk mendapatkannya di GNET Indonesia. Produk GNET Atap Shingles menjadi solusi atap yang kuat terhadap hujan deras dan gempa bumi. Memiliki sifat waterproof, GNET Atap Shingles juga mampu meredam suara dengan baik.
Jadi, tunggu apalagi? Segera hubungi tim GNET Indonesia untuk mendapatkan informasi detail seputar GNET Atap Shingles!