KEMBALI KE ARTIKEL
18 January 2024

Membangun rumah tahan gempa menjadi salah satu kebutuhan vital di Indonesia. Pasalnya menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah Indonesia mengalami guncangan gempa bumi setidaknya 10.789 kali selama sepanjang tahun 2023 dengan beragam tingkat magnitudo dan kedalaman.

Melihat besarnya potensi terjadinya gempa bumi di Indonesia, menjadikan rumah tahan gempa sebagai prioritas utama terutama di daerah yang rawan. Untuk itu, GNET Indonesia membagikan tips membangun rumah tahan gempa melalui pembahasan di bawah ini.

Tips Membangun Rumah Tahan Gempa

Berikut beberapa tips membangun rumah tahan gempa yang penting untuk Kamu ketahui:

  1. Perhatikan Kondisi Sekitar Rumah

Tips pertama adalah perhatikan kondisi sekitar rumah Kamu. Pilihlah lokasi yang aman akan adanya potensi gempa bumi. Hindari pula membangun rumah di dekat retakan geologi dan area yang berpotensi tinggi terkena gempa.

Cari tahu pula potensi bahaya selain gempa bumi yang ada di sekitar rumah. Bahaya tersebut meliputi risiko banjir, tanah longsor dan ancaman bencana alam lainnya yang dapat menyebabkan kerusakan pada rumah tahan gempa nantinya.

  1. Pemilihan Material Bangunan

Supaya konstruksi rumah tahan gempa dapat berdiri dengan kokoh, Kamu perlu memerhatikan pemilihan material bangunan yang baik pula. Pasalnya, jika Kamu asal dalam memilih material bangunan dikhawatirkan rumah tidak dapat menahan guncangan gempa secara maksimal.

Beberapa material bangunan yang perlu diperhatikan dalam pemilihannya adalah, baja, beton bertulang, batu bata ringan, bata celcon, batu alam dan kayu laminasi. Pastikan Kamu menggunakan material-material tersebut dengan mutu tinggi dan sudah berstandar SNI. 

  1. Pembuatan Pondasi 

Supaya rumah tahan gempa mampu bertahan dengan baik, pondasi perlu Kamu rancang secara kuat. Hal ini lantaran pondasi berperan penting dalam menyalurkan beban ke tanah. Apabila kondisi tanah cukup padat dan berkualitas baik, maka Kamu dapat memasang pondasi dengan kedalaman minimal 60 cm hingga 80 cm.

Selanjutnya struktur pondasi rumah juga perlu terhubung dengan sloof. Jarak antara sloof dan pondasi setidaknya 1 meter. Namun, kedalaman dan jarak pembuatan pondasi ini bisa Kamu sesuaikan lagi dengan kondisi tanah. Jika kondisi tanah sangat lunak, Kamu bisa membuat pondasi lebih dalam lagi.

  1. Struktur Bangunan

Setelah memastikan pondasi dibuat secara kokoh, tips selanjutnya adalah merancang struktur bangunan. Struktur rumah tahan gempa perlu mempunyai kapasitas yang baik dalam mendukung pergerakan tanah secara fleksibel sehingga mampu menyerapnya dengan baik.

Apabila struktur bangunan tersebut terlalu kaku, maka saat gempa mengguncang struktur akan mengalami retak dan pecah. Itulah mengapa struktur rumah tahan gempa harus sefleksibel mungkin.

  1. Arsitektur dan Desain

Rumah tahan gempa pada umumnya tidak memiliki desain yang rumit. Sebaiknya Kamu mengaplikasikan arsitektur dan desain rumah yang sederhana. Dengan bangunan berarsitektur sederhana akan memungkinkan gaya dari gempa dapat terserap maksimal. Alhasil rumah menjadi lebih tahan akan guncangan gempa. 

  1. Cara Perawatan

Setelah rumah tahan gempa selesai dibangun, penting pula untuk mempertimbangkan cara perawatannya. Terlebih jika Kamu tinggal di kawasan dengan intensitas gempa bumi yang tinggi. Pengecekan struktur secara berkala sangatlah penting untuk dilakukan.

Nah, perawatan rumah tahan gempa tersebut mencakup banyak hal. Mulai dari pemeriksaan pelat dek, pengecekan kondisi atap, restorasi material insulasi dinding, dan peninjauan pondasi. Dengan sistem perawatan yang baik, maka rumah tersebut bakal bertahan lebih lama walau seringkali diterpa oleh guncangan gempa.

Pedoman dan Syarat Rumah Tahan Gempa

Pada dasarnya Departemen Pekerjaan Umum sudah membuat pedoman rumah tahan gempa untuk mengoptimalkan upaya mitigasi, di antaranya yaitu: 

  • Rumah tahan gempa merupakan bangunan yang ketika terkena gempa dalam intensitas lemah, maka strukturnya tidak mengalami kerusakan

  • Jika rumah dilanda gempa bumi dengan intensitas sedang, bangunan hanya mengalami kerusakan minor pada elemen non-struktural.

  • Sedangkan ketika rumah terkena gempa dengan intensitas tinggi, maka bangunan akan mengalami kerusakan namun tetap tidak runtuh.

Lalu, untuk persyaratan pokok rumah tahan gempa dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meliputi bahan bangunan, hubungan antar elemen struktur, struktur utama dan pengecoran beton.

Contoh Desain Rumah Tahan Gempa

Sebagai bahan referensi, GNET Indonesia juga akan membagikan beberapa contoh desain rumah tahan gempa yang bisa Kamu aplikasikan.

  1. Rumah Teletubbies / Rumah Dome

Rumah Teletubbies  Rumah Dome

Contoh pertama adalah rumah teletubbies. Sesuai namanya rumah ini menyerupai bentuk bangunan rumah yang ada di kartun teletubbies. Desain rumah ini telah diadopsi di daerah Sleman, Yogyakarta. Permukiman ini dibangunn untuk para warga yang terkena dampak gempa bumi pada tahun 2006 lalu.

  1. RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat)

Berikutnya ada RISHA yang diinisiasi oleh Kementerian PUPR. Rumah tersebut mempunyai sistem knock down dan bisa dibangun hingga ketinggian dua lantai. Dalam proses pembangunan, RISHA membutuhkan waktu yang singkat. Walau demikian RISHA telah teruji tahan terhadap guncangan gempa hinga 8 skala richter. Desain rumah ini sudah banyak diterapkan di daerah Aceh pasca terjadinya tsunami dan gempa pada tahun 2004 lalu.

  1. RIKO (Rumah Instan Konvensional)

RIKO (Rumah Instan Konvensional)

Rumah instan konvensional (RIKO) merupakan bangunan hunian anti gempa yang diproyeksikan oleh Kementerian PUPR. Rumah ini juga sudah dipergunakan oleh korban gempa Lombok di tahun 2018. Proses pembangunan RIKO dapat dilakukan dalam waktu singkat, serta kemampuannya pun sudah teruji dalam menahan guncangan gempa bumi.

  1. RIKA (Rumah Instan Kayu)

Kementerian PUPR juga menghasilkan karya lainnya, yaitu RIKA (Rumah Instan Kayu). Seperti namanya, rumah ini didirikan dengan material berbahan kayu. Namun RIKA mengaplikasikan teknologi Laminated Veneer Lumber (LVL) yang mana kayu berkualitas rendah bisa setara dengan kayu kelas 3. Dalam proses pembangunannya, RIKA dapat didirikan dalam tenggat waktu 30 hari. 

  1. Barrataga (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa)

Bangunan rumah rakyat tahan gempa atau barrataga merupakan bangunan yang dicetuskan oleh Prof. Sarwidi. Rumah ini tidak banyak memakan biaya dalam proses pembangunannya dan proses pengerjaannya juga cukup cepat. Desain bangunannya pun cukup modern sehingga lebih estetik bila dibandingkan dengan rumah tahan gempa lainnya.

Penutup

Itulah pembahasan tentang tips membangun rumah tahan gempa beserta pedoman dan contoh desainnya. Semoga artikel ini dapat menjadi wawasan baru dan preferensi yang tepat untuk Kamu. Pantau terus website GNET Indonesia untuk tahu lebih banyak tentang artikel tips dan trik konstruksi.